Rabu, 07 Juni 2017

Don't Leave Me Alone

Saat Jackson masih berumur 5 tahun, Ibunya membawa Jennie, adiknya, untuk pergi dari rumah. Dirinya sempat merasa bingung pada Ibunya, mengapa Ia tak di ajak untuk ikut? Mengapa Ibunya mengendap-ngendap seperti itu?

"Ibu.. Jennie sama Ibu, mau kemana?" Tanya Jakcson.

"Ibu akan pergi dari sini. Kamu tetap disini saja. Tunggu Ibu dan Jennie untuk datang kembali, ya." Ucapnya.

"Ibu, aku ingin ikut." Jackson merengek-rengek.

"Kau tetap disini saja. Tunggu Ibu untuk datang kembali. Ibu akan cari uang yang banyak untuk kita nanti. Jadi, lebih baik kamu jaga rumah ini."

"Bisakah Jennie tetap tinggal bersamaku, Bu? Aku tidak ingin kesepian." Jackson memohon.

"Tidak. Kau sudah besar. Ibu butuh Jennie untuk mencari uang. Sudah, sekarang masuk, ya." Titah Ibunya.

"Tapi, Bu."

"Tidak ada tapi-tapian. Ku bilang, masuk! Ini sudah malam. Jika ada penculik bagaimana?" Tanya Ibu dengan tatapan tajamnya.

"Baiklah. Kau janji akan pulang cepat, kan?" Tanya Jackson seraya mengulurkan jari kelingkingnya.

Ibunya mendengus. Dan membalas uluran jari itu. "Janji."

Jackson segera masuk ke dalam rumah dengan penuh harapan, bahwa, Ia tak akan lama-lama untuk ditinggal.

****

Sudah beberapa tahun Jackson menunggu kedatangan sang Ibu beserta Jennie. Tapi, apa hasilnya? Ia tak pernah melihat dua batang hidung orang yang di maksudnya sedikitpun.

Jackson tak pernah berhenti untuk terus menunggu di teras rumahnya itu. Hingga saat ini, dirinya sudah berumur 14 tahun pun, Mereka tak pernah datang. Sebenarnya, apa yang mereka lakukan untuk mencari uang? Benar-benar.

Udara dingin menyeruak di sekujur tubuh laki-laki itu. Jackson tidak pernah lelah untuk menunggu sang Ibu pada musim apapun. Jackson tak pernah masuk ke dalam rumahnya. Karena, ia takut, jika Ibunya datang, lalu pergi lagi entah kemana.

Kau tahu? Tubuh Jackson itu sangat rapuh. Bagaimana tidak? Ia selalu menahan rasa laparnya hingga berhari-hari, berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan. Bagaimana tidak, ia tidak rapuh?

Di lain tempat, Ibunya sudah hidup sejahtera bersama keluarga barunya. Jennie sudah tumbuh besar dengan baik. Dan Ibunya, sangat-sangat perhatian pada anak perempuannya itu. Ia sangat takut jika Jennie mengalami berbagai masalah di asramanya itu. Ya, Ibunya sudah berkeluarga dengan seorang pengusaha kaya.

Dengan tidak sengaja, pengusaha itu melihat dompet usang di lemari milik istrinya. Kemudian, ia mengambil dompet itu, perlahan ia membukanya. Apa ini? Foto lelaki kecil? Siapa bocah manis ini? Batinnya.

Dengan langkah cepat, ia segera menemui Lidya--sang Istri, di ruang televisi. "Lidya, foto siapa ini?" Tanya dirinya.

Lidya menoleh dengan santai, dan setelah melihat fotonya, ia membulatkan matanya sempurna.

"Dari mana kau menemukan itu?" Tanyanya dengan gemetar.

"Di lemari milikmu. Kenapa? Mengapa wajahmu begitu terkejut? Siapa dia?"

"Apa jangan-jangan.. Katakan, siapa dia?!" Tanyanya lagi dengan nada yang terkesan tegas.

"A-aku tidak tahu."

"Katakan yang sejujurnya. Siapa dia?!"

"Ma-maafkan aku." Ucapnya seraya menundukkan kepalanya.

"Jika kau tak terus terang padaku, aku tak ingin melihatmu lagi!"

"Maafkan a-aku. Dia adalah Jackson, anak laki-lakiku." Ucapnya sambil menunduk lagi.

"Apa? Kau bilang anakmu hanya Jennie. Tapi? Dimana dia sekarang?"

"Ku-kurasa, dia masih menungguku di kampung halamanku. Ma-maafkan aku, hanya karena aku tak suka anak lelaki, aku meninggalkannya disana. Maafkan aku, karena aku sudah berbohong padamu. Maafkan aku, karena aku sudah memberikannya harapan, bahwa aku akan datang kembali untuk menemuinya." Ucap Lidya menunduk dan berusaha untuk menahan air matanya.

Fahsya, sang pengusaha, hanya diam seribu bahasa. Bagaimana bisa istriku se-tega itu? Ku kira dia adalah wanita yang paling sempurna di dunia ini. Tapi, kenyataannya? Dia jauh dari kata sempurna. Batinnya

"Ma-maafkan aku." Ucapnya lagi.

"Sudah. Sekarang, kau masih ingat alamat kau yang dulu? Kita jemput anak lelaki-mu yang malang." Ajak Fahsya dengan tenang.

****

Mereka sudah sampai di rumah yang dulu di tinggali oleh Lidya. Betapa terkejutnya ia, melihat rumah yang sudah tak terurus dan kumuh seperti ini. Gelap. Ya, hanya ada kegelapan di sana.

Lidya dan Fahsya berjalan ke arah pintu. Dan mengetuknya dengan hati-hati. Tok. Baru satu ketukan, pintu itu terbuka dengan sendirinya. Rupanya, sang pintu sudah sangat reot.

Lidya melihat ke dalam. Gelap. Tidak ada setitik cahaya pun di dalam sana. Kemana Jackson? Apakah sudah ada orang yang mengurusnya? Jika ada, ia akan sangat berterima kasih pada orang itu.

"Hallo. Jackson? Dimana kamu?"

"Hallo. Jackson?" Ulangnya lagi.

"Anda mencari Jackson?" Tanya seorang paruh baya yang melewati rumah itu.

Lidya menoleh ke belakang, dan mengangguk. "Iya, Bu. Apakah Anda mengenalnya? Apakah Anda tahu dimana dia sekarang?" Tanya Lidya.

"Saya sangat mengenal baik terhadapnya. Saya selalu menganggap Jackson adalah cucu saya sendiri."

"Jadi, apakah Jackson berada dirumah Anda?" Tanyanya dengan wajah yang ber-seri.

"Saya tidak memiliki rumah. Saya adalah seorang gelandangan tua,"

"Benarkah? Maafkan saya."

"Kau siapa? Apakah kau Ibunya?" Tanya seorang paruh baya itu.

"Benar sekali. Dimana Jackson?"

"Saya pikir, kau harus bertaubat pada-Nya. Bagaimana bisa, kau meninggalkan anak sekecil itu? Anak yang tidak tahu harus melakukan apa, anak yang tidak tahu harus mencari makanan kemana? Bagaimana bisa kau meninggalkannya? Kau tahu? Sudah sebulan yang lalu, Jackson meninggalkan dunia ini dengan kondisinya yang sudah sangat meng-khawatirkan. Kau tahu? Jackson selalu memanggil-manggilmu dan Jennie dikala ia ingin bertemu denganmu. Kau memang wanita yang tak punya perasaan! Perasaanmu sudah mati oleh hawa nafsu-mu! Dan satu lagi, Jackson menitipkan surat ini padaku dikala ia sudah tahu bagaimana caranya menulis. Dan, syukurlah kau datang, walau sudah sangat-sangat terlambat. Saya harap, hatimu dapat me-lembut."

Lidya tak kuasa menahan bendungan air mata yang terus mengalir dengan derasnya. Ia tak bisa berkata-kata. Ia hanya bisa diam meratapi semua ini. Perlahan, ia membuka sebuah kertas yang telah usang dan mulai membacanya.

__________

Untuk : Ibuku tercinta.
Dari : Jackson, anakmu yang meng-harapkan kedatanganmu. 

Apa kabar, Ibu? Apakah Ibu baik-baik saja disana? Sudah sekian lama, aku tak melihat wajah cantikmu, sudah sekian lama, aku tak merasakan kehangatan dan rasa kasih sayangmu. Dan sudah sekian lama, aku tak melihat wajah lucu Jennie. Bagaimana kabar Jennie sekarang, Ibu? Pasti Jennie sudah menjadi wanita yang cantik sepertimu. 

Kau tahu? Aku belajar menulis dari Nenek tua gelandangan yang baik hati. Aku sangat bersyukur, karena, jika aku bisa menulis, aku bisa mencurahkan segala keluh kesah yang menimpaku selama Ibu tak ada. 

Kau meninggalkanku sejak aku berumur 5 tahun, Bu. Dan sekarang, aku sudah berumur 14 tahun. Kemanakah janji yang dulu kita setujui, Ibu? Mengapa kau sangat lama meninggalkanku? Jika aku tak bertemu denganmu untuk yang terakhir kalinya, bagaimana, Bu? 

Aku hanya ingin, Ibu dan Jennie kembali tinggal bersamaku. Aku sudah lelah menunggumu yang tak kunjung datang. Aku lelah, Bu. Kadang, aku pernah berpikir, bahwa aku tidak memiliki seorang Ibu dan seorang adik. Sangat miris, ya, Bu?

Harapan dariku adalah, bahwa kau harus senantiasa sehat selalu, dan tidak sepertiku yang sudah tidak se-sehat dulu. Semoga kau dan Jennie bahagia,  dimana pun kalian berada. Aku hanya ingin, melihat dan memelukmu satu kalii saja. Tapi, itu sangatlah sulit untukku.

Satu lagi, aku belum sempat mengatakan ini padamu. I Love You, Mom. Please, don't leave me alone. 

Salam Rindu, dari anakmu, Jackson.

Sampai jumpa. :')

__________

"Ya Tuhan. Tolong maafkan aku! Tolong maafkan aku.. Maafkan Ibu Jackson. Maafkan Ibu yang hanya memandangmu dengan sebelah mata. Ibu rindu padamu, Nak. Tolong maafkan Ibuu! Aku memang Ibu yang jahat! Maafkan akuu!"

.

.

.

#NulisRandom2017

#sadending

#Day7

@arinruhamasabila

Tidak ada komentar:

Posting Komentar