Di bawah sinar rembulan, Laisa menatap lurus langit malam. Memikirkan apa-apa yang sudah terjadi hari ini. Bagaimana bisa Ricko pergi tanpa persetujuannya?
--Flashback On--
Pagi itu, Laisa akan pergi untuk hang out bersama dengan temannya yang lain. Tapi, saat di perjalanan, Ricko menghadang mobil milik Laisa.
Laisa segera turun dan mengernyit, heran.
"Ada apa? Kenapa kok ditutup jalannya?" Tanya Laisa.
"Kamu mau kemana?" Tanya Ricko balik, dengan wajah yang datar.
"Aku mau nongkrong sama Clarissa, Devi, yaa bareng temen-temenku lah pokoknya."
"Gak boleh." Ucapnya datar.
Laisa hanya mendengus, kesal. "Terserah aku dong. Aku udah janjian. Minggir."
Ricko merentangkan tangannya untuk menghadang Laisa. "Aku bilang, jangan."
"Kenapa si?! Kenapa kamu suka larang-larang aku? Ini hak aku, Ricko!" Laisa menggebu-gebu.
"Masuk." Ricko sudah membukakan pintu mobil dengan lebar, mempersilahkan Laisa untuk masuk.
"Gak!"
"Masuk."
"Gak!"
Ricko membuang napasnya kasar. Dan langsung menarik lengan Laisa untuk mengikutinya masuk ke dalam mobil.
"Rese! Aku pengen main." Laisa menyidekapkan lengannya.
"Mainnya sama aku aja, jangan sama yang lain." Ucap Ricko seraya menjalankan mobil milik Laisa.
"Ih.. Temen aku kan banyak. Bukan cuma kamu doang."
"Aku tahu. Tapi, aku yang lebih special."
"Siapa bilang?" Tanya Laisa.
"Tadi barusan, aku bilang." Ucap Ricko dengan wajah yang masih tetap sama, datar. Menyebalkan. Batin Laisa.
****
Laisa sedang hang out bersama dengan Clarissa, Devi, dan Agus. Ricko sedang tidak ada di kampusnya. Jadi, ini adalah kesempatan yang besar untuk Laisa. Karena, jika ada Ricko, pasti ia dibawa kesana-kemari untuk ikut bersamanya.
"Lay.. Kok Ricko gak ngebiarin lo main sama kita, si?" Tanya Clarissa tiba-tiba.
"Yaa.. Mungkin, karena kita udah sahabatan dari kecil. Jadi pengennya sama gue terus." Jawab Laisa.
"Emang gak boleh, ya, lo punya temen baru?" Tambah Devi.
"Gue juga bingung. Kenapa gak boleh? Kalo gue ketahuan hang out bareng kalian, dia bakalan bersikap dingin sama gue."
"Iya ih, emang serem banget dah mukanya. Padahal ganteng." Ucap Clarissa.
"Siapa yang serem?" Tanya seseorang yang suaranya terdengar sangat tidak asing.
"Ya, si Ricko lah. siapa lagi?" Ucap Clarissa, sambil menoleh ke arah belakang. Dan betapa terkejutnya ia, mendapati seseorang yang telah di makinya. "Eh, Ricko. Hehe." Clarissa menyengir lebar dan langsung pergi dengan berlari. Disusul oleh Devi, yang langsung menunduk dan lari secepat kilat.
Berbeda dengan Agus, dia hanya memasang wajah santainya, lalu pergi dengan langkah gontai.
Setelah semuanya pergi, tinggal-lah mereka berdua. Ricko hanya menatap Laisa datar.
"Kenapa sama mereka?" Tanya Ricko.
"Kan gak ada kamu tadinya."
"Seharusnya, kamu nungguin aku buat ke kampus. Jangan sama mereka." Ucapnya.
"Terserah deh. Kenapa juga si, kamu selalu ngelarang aku?" Tanya Laisa dengan nada tak suka.
"Karena aku udah janji mau nge-jaga kamu."
"Tapi kan gak gini juga, Rick. Aku cape kalo gini terus. Aku tahu kamu peduli sama aku. Aku tahu kamu sahabat aku. Tapi, kalo kamu selalu ngelarang aku, aku cape, Rick!" Ucap Laisa dengan air matanya yang menetes satu persatu dan terus memukul-mukul dada bidang Ricko.
Ricko hanya diam mematung melihat sahabatnya itu menangis. Ia kira, Laisa tidak akan pernah menangis.
"Jangan nangis, Lay.." Ricko menenangkan sambil memeluk Laisa erat.
"Aku kesel, Rick! Kenapa kamu gak bebasin aku aja, si?" Ucap Laisa.
"Kalo itu, kamu gak perlu tahu. Aku cuma pengen, kamu tetep ada disamping aku."
"Alasan kayak gitu, aku tahu. Alasan itu emang pasaran." Laisa mengelap sisa-sisa air mata di pipinya.
"Asalkan kamu tahu, Lay. Aku pengen tetep ada disamping kamu, karena aku akan pergi kuliah ke Amerika. Aku pengen ngabisin waktu disini, bareng sama kamu." Ucapnya sambil menunduk, karena tinggi badan Laisa jauh lebih pendek daripadanya.
"Apa? Kamu mau pergi ke Amerika? Kapan?"
"Dua hari lagi." Ricko mengangkat jari tengah dan jari telunjuknya, sehingga membentuk angka dua romawi.
"Kamu kapan punya rencana ini? kapan?!" Tanya Laisa dengan risau.
"Papa mutusin udah dari lama. Maafin aku."
"Jangan pergi. Aku mohon." Laisa menunduk.
"Ini udah 100% rencana Papa, jadi, aku gak ada pilihan buat nolak. Kita jalan-jalan, yuk. Pengen Quality Time bareng Lay-ku." Ucap Ricko mengalihkan pembicaraan.
****
Sudah satu hari dan beberapa jam lamanya mereka menghabiskan waktu dengan jalan-jalan sepulang dari jam mata pelajarannya. Tapi, Laisa hanya menunjukkam wajah murungnya saja. Ada apa gerangan?
"Lay.. Kamu kok murung terus? Jangan di tekuk gitu dong mukanya."
"Besok kamu berangkat." Laisa memanyunkan bibirnya.
"Hmm.. Nanti anter aku ke bandara, ya. Salam perpisahan." Ucapnya tersenyum paksa.
--Bandara, 07.00 WIB--
Pesawat akan segera lepas landas. Jadi, mau tak mau, mereka harus berpisah setelah sekian tahun mereka bersama.
"Lay.. Aku berangkat, ya. Maaf selama ini, suka bikin kamu gak nyaman. Kamu bisa bebas, kok, sekarang. Tapi, jangan lupa tetep hubungin aku, ya. Tunggu aku datang kembali. Aku sayang kamu." Ucapnya sambil memeluk Laisa erat.
"Kamu pergi tanpa persetujuan aku. Aku lebih suka, kalo aku gak bebas karena kamu, daripada aku ditinggal pergi sama possessive friend kayak kamu. Aku sayang kamu juga." Laisa berbicara tanpa menatap Ricko, melainkan, menunduk dan melihat sepatu Ricko.
Pesawat sudah lepas landas sejak 5 menit yang lalu. Tapi, Laisa tidak beranjak sedikit pun dari tempatnya. Ia masih kokoh berdiri, melihat lapisan atmosfer secara tak langsung. Melihat birunya langit. Dan menghirup udara, lalu membuangnya dengan kasar. "Rickooo!! I'll waiting you!! I'm promise!" Ia berteriak sekencangnya.
--Flashback Off--
To be Continued...
#NulisRandom2017
#Teenfiction
#Chapter1
#Day8
See you on the next part!
@arinruhamasabila
Tidak ada komentar:
Posting Komentar