Jumat, 02 Juni 2017

Hallucinations

Malam ini, Laras sudah sampai di tempat tujuannya. Setelah susah payah untuk mendapatkan izin dari Mamanya. Akhirnya, ia dapat datang dengan tepat waktu.

"Ada apa kau memanggilku?" Tanya Laras pada Rani.

"Tidak apa-apa. Hanya saja, aku rindu padamu." Ucap Rani sambil memeluk Laras erat.

"Hei.. Lepaskan. Kau membuatku sesak." Laras mencoba melepaskannya dengan sekuat tenaga.

"Aku ingin pulang. Malam lusa saja kita main lagi. Sekarang, ibuku melarangku untuk keluar malam lama-lama. Tidak apa-apa kan?" Tanya Laras dengan ragu. Ia takut, jikalau nanti, Rani tidak suka dan marah padanya. Laras tidak ingin membuat Rani marah lagi. Karena, Laras terlalu takut jika harus ber-marahan dengannya.

"Yasudah, tidak apa-apa. Yang penting kau akan datang dan bermain bersamaku lagi. Sampai jumpa lusa yang akan datang.." Rani tersenyum dan melambaikan tangannya, lalu hilang dengan secepat kilat.

"Wah. Enak sekali, dia pulang dengan hitungan detik saja. Sedangkan aku? Aku harus berjalan kaki lebih dari 500 meter ke rumah." Laras memanyunkan bibirnya dan langsung mengambil langkah untuk pulang ke rumahnya, sambil menendang-nendang kerikil yang ada di jalanan sepi tersebut.

"Aww." Ringisan seseorang terdengar jelas di telinga Laras.

Laras mendapati seorang anak laki-laki seusianya, tengah mengusap-ngusap kepalanya. "Hei, kau tak apa-apa?" Tanya Laras.

Lelaki itu pun, menengok ke arahnya secara perlahan. "Sakit.. Apakah kau yang melemparkan kerikil itu padaku? Aishh.." ujarnya sambil terus mengusap-usap kepalanya.

"Maafkan aku. Aku tak sengaja."

"Sudahlah. Tidak apa-apa. Oh, iya. Siapa namamu?" Tanya lelaki itu dan langsung mengulurkan tangan kanannya pada Laras.

"Namaku Larasinta. Kau bisa memanggilku, Laras." Ucap Laras sambil membalas uluran tangannya.

"Namaku Ericxanenda. Panggil saja aku, Eric." Eric tersenyum.

"Kenapa kau ada disini malam-malam begini? Lihatlah. Jalanan ini sepi. Dekat dengan tempat pemakaman. Kau tak takut?" Tanya Eric.

"Aku tak takut karena aku mempunyai teman disini. Lagi pula, kenapa aku mesti takut? Lalu, bagaimana denganmu?" Laras balik bertanya.

"Aku pun tak takut. Karena, memang aku tinggal disini. Kalau boleh tahu, siapa nama temanmu itu?"

"Kau tinggal disini? Wah.. Kalau begitu, apakah kau kenal dengan Rani? Rani adalah temanku." Ucap Laras dengan antusias.

"Ya, aku kenal. Dia kan sepupuku." Ucapnya enteng.

"Oo.. Begitu." Laras mengangguk-anggukan kepalanya.

"Waduh.. Aku telat. Aku harus pulang. Jika tidak, aku akan dimarahi oleh Mama. Aku duluan, ya, Ric. Dah." Ucapnya lagi, sambil melambaikan tangannya dan berlari terbirit-birit.

****

"Habis dari mana saja kamu?" Tanya Mama dengan nada suara yang terkesan tegas.

"Sudah kubilang, aku keluar untuk bertemu dengan teman sebayaku, Ma. Kau tak percaya padaku. Jika aku tidak datang, dia akan marah padaku. Mama tahu? Aku bertemu teman baru disana. Dan, setiap aku kesana, pasti aku diajak untuk ke rumah klasik milik keluarganya. Itu sangat menyenangkan. Tapi, kali ini, aku ingin pulang lebih cepat. Jadi, aku tak berkunjung ke rumahnya. " Laras memanyunkan bibirnya.

"Siapa? Rani? Hah?! Kau tak punya teman yang bernama Rani, Laras! Kenapa kau selalu pergi ke tempat itu?! Itu adalah tempat yang seharusnya tidak kau kunjungi. Itu adalah tempat pemakaman. Tak ada rumah klasik disana! Jujur. Sekarang, Mama sudah tidak tahan kau seperti ini! Mama ingin kau bermain dengan selayaknya. Bermain di siang hari, bermain bersama teman-teman yang sesungguhnya, dan yang terpenting bukan dengan teman halusinasi-mu! Kau harus tahu itu!" Ucap Mama Laras dengan menggebu-gebu.

Laras mematung dibuatnya. Bagaimana bisa Mamanya membongkar rahasia yang harusnya tidak Laras ketahui?  Dalam jangka waktu yang cukup lama, Mamanya berusaha untuk menutupi bahwa Laras selalu ber-halusinasi. Tapi, kali ini? Rahasia itu berhasil keluar meledak dari emosinya.

"A-apa? Mama jangan bercanda. Ba-bagaimana mungkin a-aku berhalusinasi?" Setetes air mata berhasil jatuh ke pipi chubby miliknya.

"Dengarkan Mama, sayang. Sebenarnya, Mama berusaha untuk menutupi semua ini dari kamu. Tapi, hati Mama terluka jika kamu selalu pergi untuk bertemu dengan teman halusinasi-mu itu." Mama membelai kepala Laras dengan lembut.

"Ja-jadi i-itu benar? Ra-rani hanyalah sebatas halusinasi-ku?" Ucapnya dengan terbata-bata.

.

.

.

#NulisRandom2017

#JustHallucinations

@arinruhamasabila

Tidak ada komentar:

Posting Komentar