Mengapa semua orang hanya bisa menghinaku? Tidakkah mereka berpikir bahwa itu adalah perbuatan yang keji? Tidakkah mereka berpikir bahwa mereka telah melukai hatiku?
Aku tahu, memang aku anak yang memiliki cacat kaki. Tapi, mengapa semua orang memandangku hanya dengan sebelah mata? Mereka tidak memandangku dalam segi kepintaran. Mereka hanya memandangku dari segi fisik saja. Oww.. Itu sangatlah menyakitkan.
Sekarang saja, mereka sedang membully-ku di belakang sekolah. Ya, di tempat yang selalu sepi dan tidak pernah ramai.
"Woy, cacat! Kenapa lo diem aja, hah?! Sana, jalan pake kaki sendiri. Jangan pake tongkat! Payah lo!" Ucap Rian, ketua dari seluruh teman-teman yang suka membully-ku.
"Lo payah. Cemen! Masa jalan aja kagak bisa! Hahaha." Ucapnya lagi sambil tertawa meremehkanku. Rasanya, itu sangat keterlaluan.
Daripada aku menjawab, lebih baik aku diam. Bagaimana aku bisa menjawab? Seluruh teman laki-laki yang satu kelas denganku, bergabung untuk ikut membully-ku. Mau bagaimana lagi? Aku ingin sekolah, aku ingin mempunyai ilmu yang dapat merubah segala nasibku. Jika aku mempunyai uang yang banyak, mungkin aku akan membeli kaki palsu untuk memudahkanku dalam ber-aktivitas.
Ting Tong
Suara bel akhirnya berbunyi. Hanya suara bel saja lah yang dapat menenangkanku. Rasanya, lebih baik belajar berjam-jam, daripada memiliki jam pelajaran yang kosong.
"Woy! Nanti kita bully lo lagi, ya. Awas aja kalo ngelawan! Lo abis sama kita!" Ucap Rian sembari mencengkram lenganku kuat.
"I-iya.. Akhh." Aku meringis kesakitan, saat Rian menghempaskan tanganku kuat.
Mereka sudah pergi dan hilang dari pandanganku. Terima kasih Tuhan. Aku memiliki waktu bebas walau hanya beberapa detik.
"Aww.." aku meringis ketika sebuah jam kecil jatuh menimpa kepalaku. Apa ini? Kenapa jam ini begitu aneh? Milik siapa jam ini? Memang, benda kecil ini sangat mewah menurutku. Tapi, tetap saja benda ini aneh.
Gubragg
Aawww.. Sesuatu yang lebih besar menimpaku lagi saat ini. Rasanya, tulang punggungku akan remuk, karena seseorang jatuh tepat menindih punggungku.
"Maafkan aku. Kau tak apa-apa? Mari ku bantu." Ujar seseorang itu padaku.
Kaku. Frozen. Aku mematung setelah melihat wajah cantiknya. Wah, apakah ini mimpi? Bagaimana bisa ada wanita secantik ini?
"Kau tak apa-apa? Maafkan aku." Wanita itu membungkuk 90° ke arahku.
"A-aku tak apa-apa. Ba-bagaimana de-denganmu?" Ucapku dengan gugup dan gagap.
"Bagaimana bisa kau jatuh dari atas pohon? Si-siapa kau?" Tanyaku lagi. Bayangkan saja, untuk apa gadis secantiknya berada di atas pohon?
"Aku adalah bidadari yang dikirim oleh Dewa untuk ke bumi. Tapi, aku mempunyai batas waktu sampai 3 hari. Dan ini adalah hari terakhirku di bumi. Tapi, disaat aku akan pergi ke langit, jam berhargaku terjatuh, dan hilang entah kemana.
"A-apa? K-kau bi-bidadari? Pantas saja kau begitu cantik." Ucapku terkejut.
"Tunggu. Jam? Jam yang tadi itu? Jam yang berbentuk aneh dan mewah itu?" Ucapku pada diri sendiri.
"Kau menemukannya?" Tanya bidadari.
"Kurasa, aku menemukannya. Tunggu. Yang ini?" Aku menunjukkan jam yang tadi ku maksud.
Kulihat, wajahnya berbinar tanda senang. Apakah aku telah membuatnya merasa senang? Kurasa begitu. Rasanya, aku jadi ikut senang.
"Terima kasih banyak. Kau telah menemukannya. Jika tidak ku temukan, aku pasti akan di hukum. Terima kasih banyak. Oh iya, sebagai rasa terima kasihku, kau punya 3 permintaan. Silahkan, apa saja yang kau inginkan, pasti akan ku beri." Ucapnya dengan semangat.
"Yang benar? Apakah tidak apa-apa?" Tanyaku dengan ragu.
"Sudah.. Cepat katakan, apa keinginanmu?"
"Baiklah. Yang pertama, karena aku tidak memiliki satu kaki, bisakah kau memberikan sebuah kaki padaku? Walaupun itu adalah kaki palsu?"
"Yang kedua, aku ingin semua temanku berhenti meng-olok-olok, dan menghinaku."
"Dan yang ketiga, aku ingin mereka semua berteman baik denganku, bermain bersama, belajar bersama, dan yang terpenting, aku tidak ingin memiliki dendam kepada mereka semua. Alangkah baiknya jika aku tidak memiliki penyakit di hati. Bisakah kau?"
"Aku bangga padamu. Bersiap, ya." Bidadari itu tersenyum hangat padaku.
Ting.
Aku menyaksikan bagaimana kaki baruku tumbuh dengan begitu cepat. Dan, bisa ku gerakkan kaki baruku itu kesana-kemari.
"Terima kasih banyak. Kalau begitu aku akan pergi ke kelas dan berteman dengan teman-temanku. Terima kasih banyak, bidadari. Semoga perjalananmu menyenangkan. Sampai jumpa!" Aku berlari dengan penuh kebahagiaan. Aku berlari tanpa harus menggunakan tongkatku lagi. Aku sangat bersyukur. Kulihat, bidadari itu tersenyum sambil melambaikan tangan padaku.
Terima kasih. Terima kasih banyak Tuhan. Kini, aku dapat kembali menjadi anak yang memiliki banyak teman dan tubuh yang normal.
.
.
.
#NulisRandom2017
#happyending.
@arinruhamasabila
Tidak ada komentar:
Posting Komentar