Pagi itu, sinar mentari menerobos masuk lewat kaca jendela kamar Geitsha, menyorot mata Geitsha yang masih tertutup rapat. Geitsha membuka matanya perlahan. Menyesuaikan masuknya cahaya pada matanya.
Seperti biasa, ia membuka jendela kamar untuk mengover Oksigen dengan Karbon Dioksida, yang semalaman berada di dalam kamarnya. Menarik dan membuang napasnya secara teratur, melakukan pemanasan di kamarnya, setelah itu ia mandi, untuk membuat badan menjadi fresh kembali.
Setelah selesai mandi pagi, Geitsha segera turun ke bawah untuk sarapan. Disana, sudah ada Mama Geitsha, yang sedang menyiapkan sarapannya dan sedang membuatkan bekal untuk Geitsha.
Meskipun Geitsha sudah beranjak remaja, namun, Mama Geitsha selalu membawakan bekal untuknya, karena Mamanya khawatir Geitsha akan membeli makanan yang tidak sehat saat dirinya sedang lapar. Mama ingin Geitsha selalu baik-baik saja. Karena, Geitsha adalah satu-satunya yang berharga, setelah Papa Geitsha yang telah berada di pangkuan Tuhan.
"Pagi, Mama." Sapa Geitsha dengan senyum cerianya.
"Pagi, SweetHeart." Sapa Mama lagi.
"10 menit lagi mobil jemputannya mau datang, lho. Percepat makannya, ya." Ucap Mama sambil merapikan bekal makanan milik Geitsha.
"Oke, Ma. Mobil jemputan kan, gak bakal ninggalin Getsa."
"Iya, iya. Sekarang, cepat makan. Ingat, waktu." Ucap Mama, seraya menunjuk-nunjuk jam yang berada di dinding.
Geitsha memakan makanannya dengan lahap. Dan menghabiskannya tanpa sisa. "Eumm.. Enak. Masakan Mama selalu yang terbaik!"
"Syukurlah." Mama tersenyum.
Tiinnn..
Suara klakson mobil membuat Geitsha bangun dari duduknya. Sejak 3 menit yang lalu, Geitsha dan Mama sudah menunggunya di depan taman yang tak jauh dari rumahnya.
"Mama, aku berangkat dulu, ya." Ucap Geitsha sembari mencium tangan Mama.
"Iya. Yang pinter, ya. Harus rajin disana, oke?" Mama membelai lembut rambut ikal milik Geitsha.
"Oke, Ma. Mama, sekarang bekalnya nugget ayam, kan?" Tanya Geitsha penuh semangat.
"Sekarang Mama gak buatin kamu nugget, sayang. Tapi, Mama buatin kamu sandwich." Ucap Mama dengan lembut.
"Yhaaa.. Mama.. Aku kan pengen nugget ayam." Geitsha memanyunkan bibirnya.
"Jangan gitu, dong, Getsa. Besok Mama buatin nugget, oke?"
"Beneran, Ma? Asyikk!"
"Yaudah, Ma. Getsa berangkat, ya. Sayang Mama." Geitsha menampilkan deretan gigi-giginya yang rapi.
"Dadah.." Mereka saling melambaikan tangan.
Perlahan, mobil pun semakin lama semakin menjauh dan tak terlihat.
****
Seperti biasa, di pagi hari, Mama menyiapkan bekal untuk sang anak tercinta. Dan, mengantarkan Geitsha sampai ke depan taman.
"Ma, hari ini, masaknya apa?" Tanya Geitsha dengan mata yang ber-binar.
"Sosis panggang, sayang." Ucapnya.
"Yhaaa.. Mama.. Aku kan pengen nugget ayam." Geitsha lagi-lagi memanyunkan bibirnya.
"Mama lupa, Getsa. Besok deh, gak papa, kan? Janji deh, janji." Mama mengulurkan jari kelingkingnya.
Geitsha membalas uluran jari itu, dan mempautkannya dengan jari miliknya. "Aku berangkat. Dadah." Geitsha memeluk Mama, dan mencium kedua pipi-nya.
"Belajar yang rajin, ya.. Harus semangat!!" Ucap Mama, yang hanya di jawab oleh anggukan mantap dari Geitsha. Lalu, Geitsha berlari masuk ke dalam mobil jemputannya.
Setelah mobil pergi, Mama pun kembali ke rumah.
Sesampainya dirumah ..
Dering telpon berbunyi, Mama mengangkatnya dan bercakap-cakap dengan sang penelpon..
****
Keesokan harinya, seperti biasa Mama membuatkan bekal untuk Geitsha. Lalu, segera bersiap-siap untuk pergi ke suatu tempat. Bukan, bukan pergi ke taman. Melainkan, pergi ke pantai.
Sesampainya disana, Mama segera mengeluarkan kotak bekal, berjalan ke arah bibir pantai, dan menghanyutkan bekal itu ke pantai.
"Geitsha sayang, ini bekal nugget ayam kesukaanmu, Nak.. Maafkan Mama, sayang. Mama tidak menyangka kau pergi secepat ini." Setetes air mata pun jatuh menyusul kepergian sang buah hati.
--Flashback on--
Dering telpon berbunyi, Mama mengangkatnya dan bercakap-cakap dengan sang penelpon.
"Halo," ucap seseorang di sebrang telpon.
"Halo, siapa, ya?" Tanya Mama.
"Ini dengan wali kelas Geitsha, Bu. Sebelumnya, saya minta maaf yang sebesar-besarnya."
"Minta maaf untuk apa, Bu?" Mama mengernyitkan dahinya.
"Kami, pihak sekolah menyatakan permintaan maaf yang sebesar-besarnya, karena, Geitsha di larikan ke Rumah Sakit siang ini. Ini semua terjadi saat kecelakaan mobil dengan bus tadi pagi, Bu. Ta--" ucapnya terpotong.
"Dimana?! Di RS mana Geitsha?! Saya akan ke sana. Tolong jaga dia.. Beritahu saya, dimana anak saya?!" Mama tak bisa menahan rasa tak tenangnya.
"Dengarkan saya dulu, Bu. Saya sungguh minta maaf. Karena, Geitsha sudah tidak bisa diselamatkan. Saya harap, semoga Ibu bisa merelakan kepergiannya. Kami sangat-sangat berduka cita atas kepergian Geitsha. Kami mohon. Maafkan kami."
"A-APA?! ANAKKU? TIDAK MUNGKINN!! KEMBALIKAN ANAKKU!! KEMBALIKAN!!" Mama tak bisa menahan rasa sakit dan terpukulnya.
"Aku bahkan belum memasakkan Geitsha satu nugget pun. Aku sangat menyesal! Setidaknya, Aku harus membuatkan Geitsha makanan kesukaannya! Ya Tuhan.. Bagaimana bisa kau mengambilnya dengan cepat dari-ku? Aku ingin dia berada di sampingku! Anakku.. Maafkan Ibuuu,"
--Flashback off--
"Semoga kamu tenang disana, sayang.. Ibu akan selalu menyayangi-mu, kapan pun, dan dimana pun. Selamat tinggal... My SweetHeart."
Langit selalu sama. Hari-hari pun belum berubah. Hanya satu yang berubah.. Kehilangan..
.
.
.
#NulisRandom2017
#SadEnding
#Day6
@arinruhamasabila
Tidak ada komentar:
Posting Komentar