Airin mempunyai seorang Ibu yang sangat penyanyang. Meskipun tidak ada sang Ayah, namun, Airin tetap ceria dalam ke-sehariannya. Ya, Ayahnya sudah tiada di dunia ini.
Airin hanya bisa melihat sang Ayah dari pigura foto yang terpajang di dinding kamar ibunya. Rasanya, Airin ingin memiliki keluarga yang lengkap. Se-lengkap keluarga teman-temannya.
Saat ini, Airin sedang bersiap untuk pergi ke sekolahnya. Bersama sang Ibu tentunya. Ya, Ibunya lah yang selalu mengantar-jemput Airin. Dan, tak pernah ada kata terlambat diantara Airin dan Ibunya.
"Airin. Sudah siap? Let's go!" Ucap sang Ibu bersemangat.
"Sudah, Bu. Come on!" Ucapnya dengan wajah yang berseri.
1 jam kemudian, Airin sampai di sekolahnya. Ia segera berpamitan kepada sang Ibu dan mencium tangannya dengan lembut.
"Aku sekolah dulu, Bu. Jangan lupa jemput aku, ya. Aku sayang Ibu." Ucapnya seraya mencium kedua pipi sang Ibu.
"Oke, sayang. Jangan nakal, ya, di sekolahnya. Dimakan, makanannya. Jangan sampai di bawa ke rumah lagi. Ibu mau secepatnya pulang kerja, biar Airin gak nunggu. Oke?"
"Oke! Pastilah aku makan sampai habis. Aku tahu kok Ibu mau cepet-cepet ketemu Airin di TK ini. Hehe." Airin memberikan cengiran khas-nya.
Airin segera keluar dari mobilnya dan memasuki kelas dengan gairah yang full.
"Kamu di anter lagi sama Mama kamu?" Tanya Deri.
"Iya. Emangnya kenapa, Der?"
"Gak. Cuma pengen aja di anter sama Mama juga. Mama-ku kan sibuk terus. Jadi, aku selalu sama Ayah." Ucap Deri sambil memanyunkan bibir mungilnya.
"Kamu udah 6 tahun. Jangan manyun. Aku aja nggak." Ucap Airin.
"Aku kan masih kecil! Kamu juga masih kecil!" Deri me-nyelonong pergi meninggalkan Airin.
"Deri emang suka gitu. Suka marah ga jelas, kaya anak kecil. Suka manyun aja kalo gak suka! Aku gak suka!" Ucap Airin pada dirinya sendiri, seraya memanyunkan bibirnya, persis seperti yang Deri lakukan tadi.
Sekarang sudah memasuki jam makan. Airin segera membuka bekal yang dibuatkan Ibunya, khusus untuk dirinya. Rasanya, ia sangat tenang memakan masakan sang Ibu, ketika ia jauh darinya.
"Hmm.. Kayaknya enak. Boleh coba nggak?" Tanya Deri yang langsung mendekati meja Airin.
"Gak boleh. Ini masakan ibu." Jawabnya cuek. Memang, Airin tidak suka jika ada yang meminta masakan sang Ibu. Airin hanya ingin dia saja yang harus menikmati masakan se-lezat dan se-sehat ini. Bukan orang lain.
"Pelit. Bu guruu.. Airinnya peliiit.." ucap Deri manja.
"Airin, kasih Deri sedikit, ya. Saling berbagi, yuk, sayang." Ucap Bu guru dengan membujuk.
"Gak mau, Bu. Ini masakan Ibu saya." Airin memanyunkan bibirnya.
Entah tenaga dari mana, Deri merebut kotak nasi yang sedang di pegang oleh Airin. Dan langsung melahapnya dengan secepat kilat.
Airin yang melihat itu, diam, dan tak berkata-kata. Airin hanya menunduk lemas sambil meneteskan air matanya. "Maafkan aku, Ibu. Siang ini, aku tak memakan masakanmu. Aku sudah berjanji untuk terus memakan masakanmu di sekolah. Tapi, Deri merebut dan memakan makanannya dariku." Ucapnya pelan.
"Jangan menangis, sayang. Kamu mau makan masakan Ibu?" Tanya Bu guru sambil mengusap puncak kepala Airin.
"Tidak, Bu. Terimakasih."
*****
Mengapa Ibu tak kunjung datang? Sudah 2 jam aku menunggunya disini. Ibu bilang, dia tidak akan mau untuk membuatku menunggu. Tapi? Ah sudahlah. Aku hanya perlu menunggunya beberapa menit lagi. Mungkin. Aku harus bersabar.
Ah. Aku kesal menunggunya terlalu lama. Tubuhku sudah membeku rasanya. Aku bersenandung saja sambil menunggu kedatangannya.
"Airin." Suara itu membuyarkan senandungku. Rasanya, suara ini nampak tak asing bagiku.
"Airin. Maaf sudah membuatmu menunggu." Ucap seseorang itu padaku.
Aku segera menoleh ke arah sumber suara. Dan, setelah aku melihat wajahnya, apa ini? Mengapa yang muncul adalah guruku? Kukira Ibuku yang datang.
"Lho? Kok Bu guru? Ada apa, Bu?" Tanyaku.
"Kamu menunggu Ibumu, ya, sayang?" Ucapnya dengan raut wajah yang tak bisa diartikan olehku.
"Iya, Bu. Kok Ibu saya gak datang-datang, ya. Sudah 2 jam lebih saya menunggu. *sroott*" ucapku seraya menyedot ingusku. Karena, cuacanya sangat dingin.
"Kamu pulang sama Ibu, yuk." Ajaknya.
"Saya mau nunggu Ibu saya, Bu."
"Jika Ibumu tak kunjung datang? Bagaimana, Airin?" Ucap Bu Guru dengan raut wajah yang tak bisa ku artikan lagi.
"Pasti Ibuku datang untuk menjemputku. Dia sudah berjanji." Ucapku.
"Nak, dengarkan baik-baik. Tadi, ada yang menelpon ke sekolah, dan itu adalah dari pihak Rumah Sakit Pusat. Pihak rumah sakit mengatakan, bahwa Ibu-mu telah tiada sejak 3 jam yang lalu." Ucap Bu guru dengan raut wajah penuh kasihan padaku.
Apa ini? Bu guru hanya membicarakan hal omong kosong saja padaku. Apa maksud dari perkataannya? Aku tak akan percaya!
"Maksud Ibu? Itu tidak mungkin, Bu."
Ucapku dengan tenang.
"Kau tahu yang sebenarnya, kan, Airin? Bahwa Ibu-mu tak pernah terlambat untuk menjemputmu? Kau lihat? Sekarang kau sudah bejam-jam menunggu Ibumu di cuaca yang dingin ini." Ucapnya sambil menyejajarkan tingginya dengan tinggi badanku.
"A-apa yang sebenarnya terjadi?" Tanyaku untuk lebih memastikan.
"Ibu-mu kecelakaan sejak pagi tadi, setelah mengantarkanmu, Airin. Dan, mungkin, Tuhan sudah ingin Ibumu kembali pada-Nya." Ucap Guru-ku terus terang.
"Maafkan Ibu, Airin sayang. Maafkan Ibu, karena, kau harus hidup mandiri setelah Ibu pergi. Maafkan Ibu, nak. Kamu tahu? Hal yang paling berharga adalah dirimu seorang, nak. Ibu sayang Airin. Selamat tinggal.---"
"---Itulah pesan terakhir yang Ibu-mu sampaikan lewat salah satu suster di Rumah Sakit." Ucap Guru-ku lagi.
Air mataku mengalir begitu deras. Kenapa ini? Mengapa ini semua harus terjadi? Setahun yang lalu, aku ditinggal pergi oleh Ayah. Sekarang? Ibu juga mengikuti Ayah untuk pergi meninggalkanku. Sebenarnya, kenapa semua ini terjadi?
"Ja-jadi, masakan I-ibu tadi a-adalah masakan terakhir yang t-tak ku ma-makan. Setidaknya, aku harus menyampaikan salam sayang dan salam perpisahan ku padanya."
"Ibuuuuuuuuuuuu" aku berteriak dan menangis sekencang-kencangnya.
.
.
.
#NulisRandom2017
#Day5
#SadEnding
@arinruhamasabila
Tidak ada komentar:
Posting Komentar