Kamis, 01 Juni 2017

Rumah Pohon

Saat ini, Adlina sedang menuju ke rumah pohon yang berada di halaman belakang sekolahnya. Entah kenapa, rasanya ia sangat jenuh hari ini. Untuk itu, ia memutuskan untuk ke rumah pohon jika ingin menyendiri. Halaman belakang sekolah Adlina selalu kosong dan tak pernah ramai. Mungkin, hanya penjaga sekolah dan dirinya saja yang selalu datang.

Rumah pohon yang tingginya berjarak 4 meter dari permukaan tanah serta angin sepoi-sepoi yang meniup rambut sang empu, membuat Adlina jadi ingin memejamkan matanya.

“Hmm.. Segar, ya, disini.” Suara itu seketika membuat Adlina terlonjak kaget dari tidur sementaranya.

Dengan cepat, Adlina langsung menoleh ke arah sumber suara. Sesosok laki-laki yang berambut hitam kecokelatan itu tersenyum ke arahnya. Menampakan deretan gigi-giginya yang putih nan rapi.

Siapa ini? Mengapa dia tiba-tiba ada disini? Dan, aku tak pernah melihatnya. Batin Adlina.

“Siapa kau? Mengapa kau tiba-tiba disini?” Tanya Adlina dengan alis yang bertaut.

“Hey. seharusnya, aku yang bertanya padamu, mengapa kau disini? Ini kan tempatku. Aku sejak lama sudah berada disini.” Ucapnya.

“Tempatmu? Hey, siapa bilang? Tempat ini adalah milik sekolah. Jangan mengaku-ngaku.” Adlina menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Terserah apa katamu. Oh iya, namaku Adrich. Siapa namamu?” Tanya Adrich.

“Namaku Adlina. Kurasa, aku tak pernah melihatmu. Kau kelas berapa?” Adlina mengernyit.

“Kelas 12 IPA 1.” Jawabnya singkat.

“Yang benar?” Tanya Adlina lagi. Karena, ia merasa tak yakin.

“Jika kau tak percaya, tanyakan saja pada murid-murid di kelas 12 IPA 1.”

“Yasudah. Sebentar lagi bel masuk. Kau ingin pergi ke kelas bersamaku, tidak?” Tanya Adlina yang lebih tepat disebut sebuah ajakan.

“Tidak. Kau saja, aku ingin disini.” Tolaknya.

“Yasudah kalau itu maumu. Aku pergi.” Adlina pergi menuju kelas 12 IPA 2 dengan langkah gontai. Karena kelasnya bersebelahan dengan kelas Adrich, Adlina tidak langsung masuk ke dalam kelasnya. Melainkan, masuk ke dalam kelas Adrich.

Para murid menatapnya dengan heran. Adlina tidak mempedulikan tatapan yang diberikan para murid.

“Ada apa kau kesini? Apa kau dikirim oleh guru yang bersangkutan?” Tanya seorang pria jangkung padanya.

“Ah, tidak. Hanya saja, aku ingin menanyakan sesuatu. Apakah boleh aku bertanya?”

“Silahkan saja. Apa yang ingin kau tanyakan?”

“Apakah benar, ini kelas Adrich?” Tanya nya dengan ragu.

“Adrich? Lelaki itu kan sudah meninggal karena kecelakaan sebelum kelulusannya. Dan itu sudah dua tahun yang lalu. Kau lihat, bangku di belakang pojok itu adalah miliknya. Dan, dia meninggalkan sebuah fotonya di dalam laci. Kami tak ada yang ingin untuk duduk di bangku itu karena, bangku itu masih miliknya sampai sekarang.” Jelas pria jangkung tadi dengan panjang lebar.

Deg!! Mata Adlina berhasil membulat sempurna. “Bolehkah aku melihatnya?”

Semua murid lalu mengangguk pelan. Adlina berjalan dengan perasaannya yang tak karuan. Setelah ia melihat fotonya,

Deg!! Apa ini? Jadi, selama di rumah pohon tadi, a-aku ber-interaksi dengan ha-hantu? Dan hantu itu adalah A-Adrich? Batinnya.

Gubragg..

Adlina pingsan tak sadarkan diri.

#NulisRandom2017 #cerpen #horror

Tidak ada komentar:

Posting Komentar